Pernakah kau merasa tersakiti
ketika? kau harus menanggung semua itu dan malah berbalik kepadamu? Aku rasa
kau belaum mengerti apa maksudku. Taukah ini semacam tikaman besar yang
menancap di lubang paling alam, seberapa luaskah hingga membuatku terjebak dan
tidak bisa bernafas? Seberapa dalamkah hingga membuatku merasa jelas apa yang
seharusnya aku sadari?
Memang disakiti itu sangatlah
kejam bahkan terkadang tidak bisa membedakan apakah ini takdir atau sengaja,
tak begitu jelas apa yang salah sehingga aku harus menerimanya. Sekarang itu
bukanlah yang terpenting, bagiku sekarang mengapa malah berbalik ? Sudah berapa
jauhkah aku melampaui batas? Memang ini semua sangat kelewatan dan mungkin
sulit untuk di maafkan bahkan kata map saja tidak akan cukup.
Ketahuilah dari lubuk hati yang
terdalam tak ada niatku untuk menyakiti siapapun, kau tau berapa lama aku harus
membuka hati dari sekian penderitaan kurang lebih 8 tahun yang lalu? Sampai pada
titik kenyamanan yang kurasakan ketika aku menemukan apa itu arti cinta yang
semenjak SMA tak pernah kusadari. Taukah apa yang terjadi kurang lebih 8 tahun
yang lalu? Taukah? Mereka hanya menilai tetapi tidak memahami, betapa sulit dan
hancurnya diriku saat itu, tapi aku memilih pilihan yang mungkin lebih baik
semua orang tidak perlu tahu.
Semua orang pasti pernah
disakiti, pernah engalami masa masa sulit, bahkan ketika umurmu 14 tahun,
merasa kehilangan dengan sangat tragis bahkan saat itu aku tidak tau apa itu
arti memiliki bahkan melindungi, yang ada dipikiran bocah anak SMP itu hanyalah
keegoisan cinta sesaat, sangat sulit untuk berpikir jernih bahkan saat itu kau
tidak tau harus berbagi cerita dengan siapa, mereka hanya akan mengira ini
semua gak masuk akal. Sulit tidur bahkan makan, tapi bocah SMP itu berusaha
untuk memilih tegar, bayangkan seberapa kuatkah dia harus menanggung itu
SENDIRIAN? Tidak ada yang bisa dipercaya untuk berbagi selain menangis dan
memukul tembok dinding.
Seumur hidup aku ga pernah
diajarkan untuk menyakiti seseorang, tapi setelah kejadian itu aku sangat
merasa diriku egois baget, pemcemburu banget yang sama sekali itu bukan diriku.
Hanya demi kejadian itu tidak akan pernah terjadi bahkan kedua kali ataupun
berkali kali. Seiring berjalannya waktu dan umur makin bertambah aku makin
paham, taka ada gunanya lagi harus bersikap seperti itu. Ya……….. ini takdir
sama seperti “mantan” yang pernah menyakitiku. Dibilang tidak terima iya tapi ga
ada hak untuk itu karena dalam percintaan itu sah sah saja dan wajar wajar
saja. Sungguh pepatah cinta yang tidak masuk akal, karena cinta memang buta
gamasuk akal dating dan pergi begitu saja seolah olah ini permainan? Bercandaan?
Kejam. Tapi ga ada yang bisa menyangkal kalo cinta itu penuh konsekuensi.
Sekarang aku sadar, aku harus
memperbaiki apa yang bisa aku perbaiki. Jika aku menyakiti siapapun jujur, aku
mungkin kehilangan kewarasanku bahkan fatal bagiku sehingga sulit untuk
menanggungnya. Jika aku menjadikan “kalian” pelampiasan, jujur… tak ada NIAT
sedikitpun. Salahkan jika luka lama yang tertancap tajam seharusnya segera
diobati? Jikalah luka itu membekas, setidaknya kau sudah melakuan penanganan
darurat? Salahkah apabila kau merasa memiliki harapan bahwa ada cara
menghilangkan bekas luka itu tetapi tertancap untuk kedua kalinya dan berpikir kembali
kepada seseorang yang tidak kau duga memberi perhatian secara sembunyi? Salahkan
jika aku masih mencintai orang yang jelas jelas menyakitiku atau mungkin
sebaliknya?
Terkadang menerima kenyataan itu
lebih pahit dibandingkan harus berpura-pura tegar. Bagiku sekarang mungkin
sebagian orang berpikir jika dia melakukan tindakan yang salah akan ada hari
esok ntuk memperbaikinya, tapi jika tidak ada hari esok dan mungkin harus
menunggu setahun untuk bisa memperbaikinya aku akan merasa berdosa bertindak
salah pada saat itu.
Segala keputusan yang tidak
kalian ketahui, kau harus ketahui bahwa tidak ada maksudku untuk menyakiti
siapapun dan tidak ada maksud untuk berkata seolah-olah membela diri sendiri
atau pencitraan. Aku hanya tidak ingin kehadiranku dimata orang lain hanyalah
noda kecil yang permanen dan singgah di baju putih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar