Kamis, 07 Mei 2015

Don't Try To Figure It Out. Just Read and Understand.



Pernakah kau merasa tersakiti ketika? kau harus menanggung semua itu dan malah berbalik kepadamu? Aku rasa kau belaum mengerti apa maksudku. Taukah ini semacam tikaman besar yang menancap di lubang paling alam, seberapa luaskah hingga membuatku terjebak dan tidak bisa bernafas? Seberapa dalamkah hingga membuatku merasa jelas apa yang seharusnya aku sadari?

Memang disakiti itu sangatlah kejam bahkan terkadang tidak bisa membedakan apakah ini takdir atau sengaja, tak begitu jelas apa yang salah sehingga aku harus menerimanya. Sekarang itu bukanlah yang terpenting, bagiku sekarang mengapa malah berbalik ? Sudah berapa jauhkah aku melampaui batas? Memang ini semua sangat kelewatan dan mungkin sulit untuk di maafkan bahkan kata map saja tidak akan cukup.

Ketahuilah dari lubuk hati yang terdalam tak ada niatku untuk menyakiti siapapun, kau tau berapa lama aku harus membuka hati dari sekian penderitaan kurang lebih 8 tahun yang lalu? Sampai pada titik kenyamanan yang kurasakan ketika aku menemukan apa itu arti cinta yang semenjak SMA tak pernah kusadari. Taukah apa yang terjadi kurang lebih 8 tahun yang lalu? Taukah? Mereka hanya menilai tetapi tidak memahami, betapa sulit dan hancurnya diriku saat itu, tapi aku memilih pilihan yang mungkin lebih baik semua orang tidak perlu tahu.

Semua orang pasti pernah disakiti, pernah engalami masa masa sulit, bahkan ketika umurmu 14 tahun, merasa kehilangan dengan sangat tragis bahkan saat itu aku tidak tau apa itu arti memiliki bahkan melindungi, yang ada dipikiran bocah anak SMP itu hanyalah keegoisan cinta sesaat, sangat sulit untuk berpikir jernih bahkan saat itu kau tidak tau harus berbagi cerita dengan siapa, mereka hanya akan mengira ini semua gak masuk akal. Sulit tidur bahkan makan, tapi bocah SMP itu berusaha untuk memilih tegar, bayangkan seberapa kuatkah dia harus menanggung itu SENDIRIAN? Tidak ada yang bisa dipercaya untuk berbagi selain menangis dan memukul tembok dinding.

Seumur hidup aku ga pernah diajarkan untuk menyakiti seseorang, tapi setelah kejadian itu aku sangat merasa diriku egois baget, pemcemburu banget yang sama sekali itu bukan diriku. Hanya demi kejadian itu tidak akan pernah terjadi bahkan kedua kali ataupun berkali kali. Seiring berjalannya waktu dan umur makin bertambah aku makin paham, taka ada gunanya lagi harus bersikap seperti itu. Ya……….. ini takdir sama seperti “mantan” yang pernah menyakitiku. Dibilang tidak terima iya tapi ga ada hak untuk itu karena dalam percintaan itu sah sah saja dan wajar wajar saja. Sungguh pepatah cinta yang tidak masuk akal, karena cinta memang buta gamasuk akal dating dan pergi begitu saja seolah olah ini permainan? Bercandaan? Kejam. Tapi ga ada yang bisa menyangkal kalo cinta itu penuh konsekuensi.

Sekarang aku sadar, aku harus memperbaiki apa yang bisa aku perbaiki. Jika aku menyakiti siapapun jujur, aku mungkin kehilangan kewarasanku bahkan fatal bagiku sehingga sulit untuk menanggungnya. Jika aku menjadikan “kalian” pelampiasan, jujur… tak ada NIAT sedikitpun. Salahkan jika luka lama yang tertancap tajam seharusnya segera diobati? Jikalah luka itu membekas, setidaknya kau sudah melakuan penanganan darurat? Salahkah apabila kau merasa memiliki harapan bahwa ada cara menghilangkan bekas luka itu tetapi tertancap untuk kedua kalinya dan berpikir kembali kepada seseorang yang tidak kau duga memberi perhatian secara sembunyi? Salahkan jika aku masih mencintai orang yang jelas jelas menyakitiku atau mungkin sebaliknya?
Terkadang menerima kenyataan itu lebih pahit dibandingkan harus berpura-pura tegar. Bagiku sekarang mungkin sebagian orang berpikir jika dia melakukan tindakan yang salah akan ada hari esok ntuk memperbaikinya, tapi jika tidak ada hari esok dan mungkin harus menunggu setahun untuk bisa memperbaikinya aku akan merasa berdosa bertindak salah pada saat itu.

Segala keputusan yang tidak kalian ketahui, kau harus ketahui bahwa tidak ada maksudku untuk menyakiti siapapun dan tidak ada maksud untuk berkata seolah-olah membela diri sendiri atau pencitraan. Aku hanya tidak ingin kehadiranku dimata orang lain hanyalah noda kecil yang permanen dan singgah di baju putih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar